Rabu, 21 Desember 2016

Teknik Modulasi

Teknik Modulasi

sumber: http://elektronika-dasar.web.id/teknik-modulasi/

Modulasi adalah proses penumpangan informasi yang terkandung dalam sebuah rentang frekuensi pada sebuah frekuensi pembawa. Proses kebalikan dari  modulasi disebut demodulasi. Contoh modulasi adalah proses penyiaran suara atau musik yang dipancarkan melalui sebuah pemancar radio. Sedangkan contoh demodulasi adalah proses penerimaan suara atau musik oleh sebuah pesawat penerima radio.
Modulasi digunakan untuk mengatasi ketidaksesuaian karakter sinyal dengan media( kanal) yang digunakan.Tanpa proses modulasi, informasi tidak praktis dikirimkan melalui media udara.
Alasan sinyal informasi harus dimodulasi sebelum ditransmisikan adalah.

1. Menghindari Interferensi

Sinyal-sinyal suara (frekuensinya sama) jika ditransmisikan secara bersamaan interferensi, dimana sinyal saling tumpang tindih dan mengganggu satu sama lain.
Dengan modulasi, frekuensi sinyal-sinyal suara dipindahkan ke wilayah frekuensi yang jauh lebih tinggi, sehingga dapat ditempatkan pada daerah-daerah frekuensi yang berbeda-beda. Proses ini disebut Frequency Division Multiplexing.

2. Ukuan Antena (Pembuatan Antena)

Propagasi/perambatan yang efektif, memerlukan ukuran antenna ¼ – ½ dari panjang gelombang sinyal yang akan ditransmisikan. Sinyal suara tidak praktis ditransmisikan secara langsung melalui media udara dalam bentuk sinyal aslinya. Frekuensi sinyal suara: 300-3000Hz
Ukuran antena : ¼ – ½ λ (pjg gelombang) dari sinyal yg akan ditransmisikan
\small \dpi{100} \lambda =\frac{c}{f}
Dimana,
λ : panjang gelombang
c : kecepatan cahaya, 3.e8
f : frekuensi sinyal suara
Sehingga ukuran antena untuk frekuensi informasi 3 KHz adalah :
\small \dpi{100} \lambda =\frac{3\cdot 10^8}{3\cdot 10^3}=100Km
λ = 100 km, sehingga ukuran antena harus ¼ λ – ½ λ = 25 – 50 km, ukuran antena tidak praktis
Dari informasi yang di transmisikan, modulasi dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok yaitu :

Modulasi Analog

  • Modulasi Amplitudo (Amplitude Modulation, AM)
  • Modulasi Frekuensi (Frequency Modulation, FM)
  • Modulasi Fasa (Phase  Modulation, PM)

Modulasi Digital

  • Amplitude Shift Keying (ASK)
  • Frequency Shift Keying (FSK)
  • Phase Shift Keying (PSK)
Gelombang pembawa sering disebut carrier (pembawa) dan gelombang informasi yang ditumpangkan (dimodulasikan) disebut signal informasi. Selanjutnya gelombang pembawa akan dinyatakan oleh nilai tegangan keluaran sesaat yang biasa ditulis dalam bentuk persamaan gelombang sebagai berikut:
\small \dpi{100} e_{out}=A_{o}cos(2\pi f_{o}t)
Dimana :
eout : tegangan output gelombang pembawa (volt)
Ao : Amplitudo tegangan keluaran gelombang pembawa (volt)
fo : frekueansi gelombang pembawa (Hz)
t : waktu (det)
Demikian pula halnya dengan gelombang sinyal informasi sebagai berikut :
\small \dpi{100} e_{s}=A_{s}cos(2\pi f_{s}t)
Dimana :
es : tegangan keluaran gelombang sinyal informasi (volt)
As : Amplitudo tegangan keluaran gelombang sinyal informasi (volt)
fs : frekueansi gelombang sinyal informasi (Hz)
t : waktu (det)
Jika gelombang pembawa dimodulasi oleh sinyal informasi sedemikian rupa sehingga amplitudo gelombang pembawa berubah sesuai dengan perubahan simpangan (tegangan) sinyal informasi, maka modulasi seperti ini biasa disebut modulasi amplitudo (Amplitude Modulation = AM). Bentuk gelombang sinyal pembawa (carrier) dan sinyal informasi dalam modulasi AM dapat dilihat pada gambar berikut :

Bentuk Gelombang Output Modulasi Amplitudo (Amplitude Modulation, AM)

bentuk gelombang am,modulasi am,gelombang output modulasi amplitudo
Sedangkan jika gelombang pembawa itu dimodulasi oleh gelombang sinyal sedemikian rupa sehingga frekuensi gelombang pembawa berubah sesuai dengan perubahan simpangan (tegangan) gelombang sinyal, maka modulasi ini disebut modulasi frekuensi (Frequency Modulation = FM). Bentuk gelombang output dari sinyal pembawa (carrier) dan sinyal informasi dalam modulasi FM dapat dilihat pada gambar berikut :

Bentuk Gelombang Output Modulasi Frekuensi (Frequency Modulation, FM)

bentuk gelombang fm,modulasi fm,gelombang output modulasi frekuensi
Dalam kehidupan sehari-hari, baik pemancar maupun penerima dari kedua jenis modulasi ini masing-masing sering disebut pemancar atau penerima AM dan pemancar atau penerima FM.

Keuntungan FM terhadap AM

  • Amplitudo sinyal FM konstan, sehingga pemancar tidak memerlukan penguat linier (Klas A, B) seperti pada pemancar AM, tapi cukup penguat Klas C yang mempunyai efisiensi lebih baik.
  • Adanya capture effect pada penerima FM, yakni sinyal yang lebih kuat ‟mengalahkan‟ sinyal lain yang lebih lemah pada frekuensi yang (hampir) sama. Dalam hal ini sinyal yang lebih lemah diterima di (limitter) penerima dengan mengalami peredaman, bukannya penguatan. Kondisi ini, dapat mencegah interferensi dengan sinyal lain yang tidak diinginkan.
  • FM tebih tahan terhadap derau, dapat dicapai dengan rangkaian ‟pre-emphasis‟ yang tidak terdapat di sistem AM. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Derau mempunyai efek yang lebih besar di frekuensi- frekuensi tinggi daripada rendah. Rangkaian pre-amphasis di pemancar akan menaikkan amplitudo komponen-komponen frekuensi tinggi, sehingga lebih tahan terhadap derau. Di penerima, melalui rangkaian de-emphasis, nilai amplitudo komponen2 frekuensi tinggi tersebut dikembalikan ke semula.
  • Pada Pemancar FM komersial, kanal frekuensi yang berdekatan dipisahkan oleh ‟guard band‟ selebar 25 kHz, sehingga mencegah interferensi antar kanal. Pemancar FM beroperasi pada daerah frekuensi VHF dan UHF dengan lebih sedikit derau dibandingkan dengan daerah frekuensi pemancar AM, yakni MF dan HF.
  • Komunikasi FM mendekati ‟line of sight‟ (antena pemancar dan penerima harus saling ‟melihat‟ yang membatasi radius penerimaan. Hal ini memungkinkan dioperasikannya beberapa pemancar berbeda pada frekuensi yang sama dengan interferensi yang kecil.

Kerugian FM terhadap AM

  • Kanal yang dibutuhkan pada komunikasi FM jauh lebih lebar dari AM
  • Peralatan pemancar dan penerima FM labih rumit daripada AM, terutama bagian modulator dan demodulatornya.
  • Penerimaan ‟Line of Sight‟ pada FM menyebabkan daerah cakupan FM lebih kecil daripada AM.

SEJARAH JEMBATAN AMPERA


Jembatan Ampera merupakan jembatan kebanggaan masyarakat Palembang, Sumatera Selatan dan menjadi Trade Mark bagi kota Palembang. Keberadaan jembatan tersebut sangat penting untuk menghubungkan daerah ulu dan ilir sehingga transportasi menjadi lancar dan otomatis juga memperlancar kehidupan ekonomi. Jembatan Ampera merupakan hadiah Bung Karno bagi masyarakat Palembang yang dananya diambil dari dana rampasan perang Jepang (juga untuk membangun Monas, Jakarta). Dahulu jembatan ini sempat diberi nama Jembatan Bung Karno, tetapi beliau tidak setuju (supaya tidak ada kultus individu), maka nama Ampera lebih cocok sesuai dengan fungsinya sebagai Amanat Penderitaan Rakyat, yang pernah menjadi slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960-an.

Struktur Jembatan Ampera

    Panjang : 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)
    Lebar : 22 m
    Tinggi : 11.5 m dari permukaan air
    Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah
    Jarak antara menara : 75 m
    Berat : 944 ton

Pada awalnya, jembatan sepanjang 1.177 meter dengan lebar 22 meter ini, dinamai Jembatan Bung Karno.
Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Sejarah Jembatan Ampera

Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965 tepatnya pada tanggal 30 September 1965 Oleh Letjend Ahmad Yani ( sore hari Pak Yani Pulang dan subuh 1 Oktober 65 menjadi Korban G.30 S PKI), sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Akan tetapi, setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera. tetapi masyarakat palembang lebih suka memanggil jembatan ini dengan sebutan “Proyek Musi”

Bagian tengah Jembatan Ampera, ketika baru selesai dibangun, sepanjang 71,90 meter, dengan lebar 22 meter. Bagian jembatan yang berat keseluruhan 944 ton itu dapat diangkat dengan kecepatan sekitar 10 meter per menit. Dua menara pengangkatnya berdiri tegak setinggi 63 meter. Jarak antara dua menara ini 75 meter. Dua menara ini dilengkapi dengan dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton.

Keistimewaan Jembatan Ampera

Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.

Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.

Sejak tahun 1970, Jembatan Ampera sudah tidak lagi dinaikturunkan. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini, yaitu sekitar 30 menit, dianggap mengganggu arus lalu lintas antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir, dua daerah Kota Palembang yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Alasan lain karena sudah tidak ada kapal besar yang bisa berlayar di Sungai Musi. Pendangkalan yang semakin parah menjadi penyebab Sungai Musi tidak bisa dilayari kapal berukuran besar. Sampai sekarang, Sungai Musi memang terus mengalami pendangkalan .

Pada tahun 1990, dua bandul pemberat untuk menaikkan dan menurunkan bagian tengah jembatan, yang masing-masing seberat 500 ton, dibongkar dan diturunkan karena khawatir jika sewaktu-waktu benda itu jatuh dan menimpa orang yang lewat di jembatan.

Jembatan Ampera pernah direnovasi pada tahun 1981, dengan menghabiskan dana sekitar Rp 850 juta. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan Jembatan Ampera bisa membuatnya ambruk.

Bersamaan dengan eforia reformasi tahun 1997, beberapa onderdil jembatan ini diketahui dipreteli pencuri. Pencurian dilakukan dengan memanjat menara jembatan, dan memotong beberapa onderdil jembatan yang sudah tidak berfungsi.
Warna jembatan pun sudah mengalami 3 kali perubahan dari awal berdiri berwarna abu-abu terus tahun 1992 di ganti kuning dan terakhir di tahun 2002 menjadi merah sampai sekarang.

sumber :http://sonsakira.blogspot.co.id/

KISAH MASUK ISLAMNYA KHALID BIN WALID

KISAH MASUK ISLAMNYA KHALID BIN WALID (PANGLIMA PERANG YANG TANGGUH)

sumber :https://sachrony.wordpress.com/2009/06/11/kisah-masuk-islamnya-khalid-bin-walid-panglima-perang-yang-tangguh/

Dahulu sebelum masuk Islam Nama Khalid bin Walid sangat termashur sebagai panglima Tentara Kaum Kafir Quraisy yang tak terkalahkan. Baju kebesarannya berkancingkan emas dan mahkota dikepalanya bertahtahkan berlian . Begitu gagah dan perkasanya Khalid baik di Medan perang maupun  ahli dalam menyusun strategi perang.  Pada waktu Perang UHUD melawan tentara Muslimin pimpinan Rosululloh SAW banyak  Suhada yang Syahid terbunuh ditangan Khalid bin Walid dengan dengan  Suara lantang diatas perbukitan  Khalid bin Walid berkata” Hai Muhammad kami sudah Menang, kamu telah kalah dalam peperangan ini….lihatlah pamanmu Hamzah yang tewas tercabik cabik tubuhnya dan lihatlah pasukanmu yang telah porak poranda”. Rosululloh saw menjawab “Tidak aku yang menang dan engkau yang kalah Khalid …Mereka yang gugur adalah Syahid , sebenarnya mereka tidak mati wahai Khalid mereka hidupdisisi Alloh SWT penuh dengan kemuliaan dan kenikmatan , mereka telah berhasil pindah alam dari dunia menuju akherat menuju surga Alloh karena membela Agama Alloh gugur sebagai syuhada akan tetapi Matinya tentaramu , matinya sebagai Kafir dan dimasukkan ke Neraka Jahannam. Setelah itu Khalid memerintahkan pasukannya untuk kembali, sejak itu Khalid termenung terngiang selalu akan kata kata  Nabi Muhammad saw dan penasaran akan sosok Muhammad saw . Maka Khalid mengutus mata-mata ( intel ) untuk memantau dan mengamati aktivitas Muhammad Saw setelah perang Uhud tersebut. Setelah cukup lama memata-matai Rosululloh akhirnya utusan Khalid bin Walid melaporkan hasil pengamatan tersebut , kata utusan tersebut” Aku mendengar semangat juang yang dikemukakan muhammad kepada para pasukannya Muhammad  mengatakan ” Aku heran kepada seorang panglima khalid bin Walid yang gagah perkasa dan cerdas , tapi kenapa dia tidak paham dengan AGAMA ALLOH  yang aku bawa , sekiranya Khalid bin Walid tahu dan paham dengan Agama yang aku bawa , dia akan berjuang bersamaku( Muhammad ) , Khalid akan aku jadikan juru rundingku yang duduk bersanding di sampingku. Kata kata mutiara tersebut disampaikan mata-mata Khalid bin walid di Mekkah kepada panglimanya.
ikhwan_4-1 
Mendengar laporan Intel tersebut semakin membuat Risau Khalid bin Walid hingga akhirnya Khalid memutuskan untuk bertemu Muhammad dengan menyamar dan menggunakan Topeng menutup wajahnya hingga tidak di kenali oleh siapapapun. Khalid berangkat seorang diri dengan menunggang Kuda dan menggunakan baju kebesarnnya yang berhias emas serta mahkota bertahta berlian namun wajahnya ditutupi Topeng. Di tengah perjalanan Khalid bertemu dengan Bilal yang sedang bedakwah kepada para petani. Dengan Diam-diam Khalid mendengarkan dan menyimak apa yang di sampaikan oleh Bilal yang membacakan surat al hujarat ( Qs 49:13 ) yang artinya” Hai manusia kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling mengenal dengan baik. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Alloh adalah orang-orang yang paling bertaqwa karena sesungguhnya Alloh maha mengetahui lagi maha Mengenal”
Khalid terperanga bagaimana mungkin Bilal yang kuketahui sebagai Budak hitam dan buta hurup bisa berbicara seindah dan sehebat itu  tentu itu benar perkataan dan Firman Alloh. Namun gerak gerik mencurigakan Khalid bin walid di ketahui sayyidina Ali bin Abi Thalib , dengan lantang Ali berkata” Hai penunggang Kuda Bukalah topengmu agar aku bisa mengenalimu, bila niatmu baik aku akan layani dengan baiki  dan bila niatmu buruk aku akan layani pula dengan buruk” Kata Ali bin Abi thalib.
Setelah itu dibukalah Topeng tampaklah wajah  Khalid bin Walid seorang Panglima besar kaum Kafir Quraisy yang berjaya diperang UHUD  dengan tatapan mata yang penuh karismatik Khalid berkata” Aku kemari punya Niat baik untuk bertemu Muhammad dan menyatakan diriku masuk Islam” Kata Khalid bin Walid. Wajah Ali yang sempat tegang berubah menjadi berseri-seri” Tunggulah kau di sini Khalid saya akan sampaikan berita gembira ini kepada Rosululloh saw” Kata Ali bi Abi thalib. Bergegas Ali menemui Rosululloh saw dan menyampaikan maksud kedatangan Khalid bin Walid sang panglima perang . Mendengar berita yang disampaikan Ali , wajah rosululloh SAW berseri seri lalu mengambil sorban hijau miliknya lalu dibentangkan di tanah sebagai tanda penghormatan kepada Khalid bin walid  yang akan datang menemuinya. Lalu Rosululloh saw menyuruh Ali menjemput  Khalid untuk menemuinya. Begitu Khalid datang Rosululloh langsung memeluknya. ” Ya rosululloh islam saya ” Kata Khalid bin Walid. Lalu Rosululloh saw mengajarkan kalimat Syahadat kepada Khalid maka Khalid bin walid telah memeluk agama Islam.
Begitu selesai membaca syahadat Khalid bin walid menanggalkan Mahkotanya yang bertahtahkan intan diserahkan kepada rosululloh, begitu pula dengan bajunya yang berkancingkan emas di serahkan juga kepada rosululloh saw. Namun begitu Khalid bin walid akan mencopot pedangnya dan menyerahkannya kepada Rosululloh , Baginda rosululloh melarangnya ” Jangan kau lepaskan pedang itu Khalid , karena dengan pedang itu nanti kamu akan berjuang membela agama Alloh bersamaku ” Kata Rosululloh saw . dan Nabi memberi gelar pedang tersebut dengan nama “Syaifulloh yang artinya “pedang Alloh yang terhunus. Setelah bergabungnya Khalid bin walid kedalam Islam, bertambah kuatlah pasukan Muslim hingga bisa menaklukan kota Mekkah dan Pasukan Kafir Quraiys secara drastis melemah bagaikan ayam kehilangan induknya

Integrated Circuit (IC)

Integrated Circuit (IC)

Pengertian Integrated Circuit (IC)

sumber :http://abi-blog.com/integrated-circuit-ic-jenis-fungsi-dan-karakternya/

Integrated Circuit (IC), jenis, fungsi dan karakternya
   Integrated Circuit adalah suatu komponen elektronik yang dibuat dari bahan semi konduktor dan merupakan pengembangan dari transistor. Dalam sebuah IC terdapat beberapa jenis komponen pasif maupun komponen aktif yang tersusun dalam kemasan (pckages). 
   Jenis -jenis kemasan pada IC yang umum digunakan antara lain: Single In-Line (SIP), Dual In-Line Packege (DIP), Q!uad In-Line Package (QIP), dan flat Pack.


Jenis-jenis Integrated Circuit (IC)

1. IC Analog ( Linier)

   IC analog adalah IC yang tersusun oleh beberapa rangkaian (linier) dan beroperasi dengan menggunakan sinyal sinusoidal.

Integrated Circuit (IC), jenis, fungsi dan karakternyaMacam- macam IC analog (linier)
a. IC Op-Amp

   Disebut amplifier operasional atau op-amp merupakan salah satu jenis IC analog yang berfungsi sebagai rangkaian penguat.
    IC Op- Amp, s dibedakan menjadi dua macam/jenis yaitu:


i. Op- Am Inverting
Integrated Circuit (IC), jenis, fungsi dan karakternya   Op-amp inverting merupakan rangkaian penguat yang tegangan keluarabbya berbanding terbalik dengan tegangan masuknya. Sinyal masuk ke op-amp inverting melalui input inverting dan menghasilkan keluaran dengan sudut fase yang berkebalikan dengan sudut fase tegangan masukan.
  Besarnya penguatan tergantung pada faktor penguatan (gain) yang dirumuskan sebagai berikut:
Vout = -(R2/R1)Vin
dengan:
Vout  : tegangan keluaran penguatan operasional (output)
Vin    : tegangan masukan (input)
R1     : hambatan ke-1 (ohm)
R2     : hambatan ke-2 (ohm)
ii. Op-Amp Non-Inverting
Integrated Circuit (IC), jenis, fungsi dan karakternya
   Penguat operasional non inverting termasuk dalam sistem analog linier, yaitu sitem yang menghasilkan tegangan keluaran sebanding dengan tegangan masukan yang diberikan. Penguat operasional non inverting adalah penguat yang sinyal masukannya diberikan pada input non-inverting dan menghasilkan output dengan sudut fase sama dengan sudut fase tegangan input.
   Besarnya penguatan pada faktor penguatan (gain) yang dirumuskan sebagai berikut:
Vout = ((Ri+R2)/R1)Vin
dengan
Vout   : tegangan keluaran penguatan operasional (output)
Vin     : tegangan masukan (input)
R1      : hambatan ke-1 (ohm)
R2      : hambatan ke-2 (ohm)
b. IC timer 555
   IC timer 555 merupakan IC linier yang berfungsi sebagai rangkaian pewaktu monostable dan osilator estable. IC 555 merupakan jenis IC yang terkenal didalam dunia elektronika analog/linier.
   Pada penggunaannya , IC 555 dapat dikategorikan dalam beberapa fungsi rangkaian, antara lain sebagai berikut:
i. Rangkaian Monostable
Integrated Circuit (IC), jenis, fungsi dan karakternya
   Pada rangkaian monostable , IC 555 berfungsi sebagai penghasil pulsa diskrit. Pulsa akan dihasilkan pada saat IC 555 menerima siyal pemicu.
   Lebar pulsa yang dihasilkan dipengaruhi oleh hubungan RC (resistor dan kapasitor). Pulsa akan berhenti setelah kapasitor menerima 2/3 tegangan catu daya.
   Lebar pulsa dapat dimodifikasi dengan mengubah nilai resistor (R) dan kapasitor (C) sesuai dengan rumus berikut:
t=1,1(RxC)
dengan:
t     : tegangan pulsa (detik)
R    : nilai resistor (ohm)
C    : nilai kapasitor (farad)
ii. Rangkaian Astable
Integrated Circuit (IC), jenis, fungsi dan karakternya

   Pada rangkaian astable, IC 555 berfungsi sebagai penghasil sinyal kotak (pulsa) dengan frekuensi tertentu secara terus menerus. R1 menghubungan Vcc dan pin7 (pin discharge), R2 menghubungkan pin 7(pin discharge), pin 6 (threshold), dan pin 2 (trigger).
   Kapasitor melakukan pengisian pada R1 dan R2, serta hanya melakukan pengosongan pada R2.
   POada rangkaian estable, frekuensi pulsa hanya dipengaruhi oleh nilai R1, R2, dan C. Rumusan frekuensi pada rangkaian estable sebagai berikut:
f = 1/(In(2)xC(R1+R2))
Lebar pulsa high dirumuskan sebagai berikut
high = In(2)x(R1+2R2)C
Lebar pulsa low dirumuskan sebagai berikut :
low = In(2)xCxR2
dengan:
R    : nilai resistor (ohm)
C    : nilai kapasitor (C)
c. IC Power
Integrated Circuit (IC), jenis, fungsi dan karakternya

   IC Power merupakan jenis IC yang beroperasi pada catu daya . Umumnya , IC power digunakan pada rangkaian regulator, adaptor dan power supply.








2. IC Digital

Integrated Circuit (IC), jenis, fungsi dan karakternya
   Berbeda dengan IC analog (linier) , IC digital beroperasi pada tegangan 0 volt (low) dan 5 volt (high). IC digital tersusun dari beberapa rangkaian logika AND, OR, NOT, NAND, NOR,dan XOR).
   IC digital sering digunakan sebagai aplikasi sakelar cepat. Pada perkembangannya, IC digital merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam segala bidang elektronika, karena ukurannya kecil dan memiliki fungsi yang sangat lengkap.
Suggested News

Dekoder TTL BCD Ke 7 Segment

Dekoder TTL BCD Ke 7 Segment

Dekoder BCD ke 7 segment jenis TTL adalah rangkaian yang berfungsi untuk mengubah kode bilangan biner BCD (Binary Coded Decimal) menjadi data tampilan untuk penampil/display 7 segment yang bekerja pada tegangan TTL (+5 volt DC). Dalam artikel ini dekoder BCD ke 7 segmen yang digunakan adalah jenis TTL. Decoder BCD ke 7 segmen jenis TTL ada beberapa macam diantaranya keluarga IC TTL 7447 dan keluarga IC TTL 7448. Kedua IC TTL: tersebut memiliki fungsi yang sama namun peruntukannya berbeda IC 7447 digunakan untuk driver 7 segment common anoda sedangkan IC 7448 digunakan untuk driver dispaly 7 segment common cathode. IC dekoder BCD ke 7 segment sering juga dikenal sebagai driver display 7 segment karena selalu digunakan untuk memberikan driver sumber tegangan ke penampil 7 segment.

Konfigurasi Pin IC Dekoder BCD Ke 7 Segmen 7447 Dan 7448

  • Jalur input data BCD, pin input ini terdiri dari 4 line input yang mewakili 4 bit data BCD dengan sebutan jalur input A, B, C  dan D.
  • Jalur ouput 7 segmen, pin output ini berfungsi untuk mendistribusikan data pengkodean ke penampil 7 segmen. Pin output dekoder BCD ke 7 segmen ini ada 7 pin yang masing-masing diberi nama a, b, c, d, e, f dan g.
  • Jalur LT (Lamp Test) yang berfunsi untuk menyalakan semua led pada penampil 7 segmen, jalur LT akan aktif pad saat diberikan logika LOW pad jalut LT tersebut.
  • Jalur RBI (Riple Blanking Input) yang berfungsi untuk menahan sinyal input (disable input), jalur RBI akan aktif bila diberikan logika LOW.
  • Jalur RBO (Riple blanking Output) yang berfungsi untuk menahan data output ke penampil 7 segmen (disable output), jalur RBO ini akan aktif pada sat diberikan logika LOW.
Dalam aplikasi decoder, ketiga jalur kontorl (LT, RBI dan RBO) harus diberikan logika HIGH dengan tujuan data input BCD dapat masuk dan penampil 7 segmen dapat menerima data tampilan sesuai data BCD yang diberikan pada jalur input.

Rangkaian Aplikasi Dekoder BCD Ke 7 Segmen Common Anoda (IC 7447)

TTL BCD to 7 Segment Decoder CA,decoder BCD ke 7 segmen,aplikasi dekoder bcd ke 7 segmen,driver penampil 7 segmen,konfigurasi penampil 7 segmen,IC 7447,rangkaian IC7447,konfigurasi IC 7447,fungsi dekoder BCD ke 7 segment,skema IC7447,skema driver 7 segmen comon anoda,rangkaian driver 7 segmen common anoda,driver display common anoda,fungsi pin 7447,fungsi kaki ic 7447

Rangkaian Aplikasi Dekoder BCD Ke 7 Segmen Common Cathoda (IC 7448)

aplikasi decoder bcd ke 7 segmen,rangkaian aplikasi dekoder bcd ke 7 segmen,skema aplikasi dekoder bcd ke 7 segmen,rangkaian IC7448,skema ic 7448,konfigurasi ic 7448,driver dispaly 7 segmen common cathoda,dekoder bcd ke 7 segmen common cathoda,fungsi pin ic 7448,konfiguarsi ic 7448,teori dekoder bcd ke 7 segmen,dekoder ttl bcd ke 7 segmen,keluarga ic ttl 7447 7448
Untuk aplikasi yang terlihat pada kedua gambar diatas adalah teknik driver penampil 7 segmen standar menggunakan decoder BCD ke 7 segmen TTL IC 7447 dan IC 7448. Fungsi resistor pada setiap jalur output dekoder BCD ke 7 segmen tersebut adalah sebagai pembatas arus maksimum yang mengalir pada LED penampil 7 segmen dan arus yang mengalir pada IC dekoder BCD ke 7 segmen yang digunakan dimana arus maksimum yang diperbolehkan maksimum 20 mA.


sumber : http://elektronika-dasar.web.id/dekoder-ttl-bcd-ke-7-segment/

Relasi Makna


 RELASI MAKNA DAN JENIS-JENISNYA



KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Relasi Makna dan Jenis-Jenisnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
            Makalah Relasi Makna dan Jenis-Jenisnya ini dibuat dengan tujuan untuk memberi pengetahuan dan wawasan yang lebih tentang Relasi Makna, Jenis-Jenisnya dan Penerapannya dalam sebuah paragraf.
            Dalam penyusunan Makalah Relasi Makna dan Jenis-Jenisnya ini banyak pihak yang telah membantu proses pembuatannya. Untuk itu kepada dosen, dan rekan-rekan yang telah membantu menyelesaikan laporan ini saya ucapkan terima kasih.
            Selain itu, saya juga menyadari bahwa laporan kerja ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk tugas-tugas yang akan datang.
            Mudah-mudahan Makalah Relasi Makna dan Jenis-Jenisnya ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi kita semua.
Palembang,   Desember 2015

Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bahasa merupakan sistem komunikasi yang amat penting bagi manusia. Bahasamerupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Sebagai suatu unsur yang dinamik, bahasa sentiasa dianalisis dan dikaji dengan menggunakan perbagai pendekatan untuk mengkajinya. Antara lain pendekatan yang dapat digunakan untuk mengkaji bahasa ialah pendekatan makna. Semantik merupakan salah satu bidang linguistik yang mempelajari tentang makna.
Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). “Semantik” pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2).
Dalam suatu bahasa, makna kata saling berhubungan, hubungan ini disebut Relasi makna. Relasi makna dapat berwujud bermacam – macam. Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna ( sinonim), kebalikan makna ( Antonim), kegandaan makna ( polisemi dan Ambiguitas ), ketercakupan makna (Hiponimi ), kelainan makna ( Honimi),kelebihan makna (Redundansi ), dan sebagainya.
Perkembangan dalam bidang ilmu dan kemajuan dalam bidang teknologi dapat menyebabkan terjadinya perubahan makna sebuah kata. Di sini sebuah kata yang tadinya mengandung konsep makna mengenai sesuatu yang sederhana, tetap digunakan walaupun konsep makna yang dikandung telah berubah sebagai akibat dari pandangan baru. Makna sebagai unsur bahasa merupakan salah satu unsur yang memiliki potensi untuk berubah karena makna berkaitan dengan konsep-konsep dan pikiran manusia yang tidak pernah berhenti. Perubahan makna terjadi dipengaruhi oleh beberapa sebab serta terdapat berbagai jenis perubahan makna diantaranya yaitu,meluas menyempit,perubahan total,membaik, memburuk.
Drs. Abdul Chear (1989 : 82) mengemukan bahwa Relasi Makna merupakan hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa yang lainnya lagi.Menurut Mansoer Pateda (2001:79) bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. Ada beberapa jenis makna, antara lain makna leksikal, makna gramatikal, makna denotasi, dan makna konotasi. Selain itu, ada juga yang disebut relasi makna yaitu Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain.
 J.W.M Verhaar(1981:9) Mengemukakan bahwa semantik (inggris: semantics) berarti teori makna atau teori arti, yakni cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti. Lehrer(1974: 1) Semantik adalah studi tentang makna. Bagi Lehrer, semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas, karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat dan antropologi.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian relasi makna?
2.      Apa saja jenis-jenis relasi makna?
3.      Apa pengertian dari masing-masing jenis relasi makna?
4.      Bagaimana contoh dari masing-masing jenis relasi makna?


1.3  Tujuan
1.      Mengetahui pengertian dari relasi makna.
2.      Mengetahui jenis-jenis relasi makna.
3.      Mengetahui pengertian dari masing-masing jenis relasi makna.
4.      Mengetahui contoh dari masing-masing relasi makna.

1.4  Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah ini baik bagi penulis maupun bagi pembaca adalah agar dapat lebih memahami pengertian relasi makna. Selain itu, adanya makalah ini kita dapat mengetahui tentang jenis-jenis dari contoh relasi makna.













BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Makna
Semantik merupakan salah satu bidang semantik yang mempelajari tentang makna. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda, 2001:82) mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.
            Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa indonesia, sering kali kita temui hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau setuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Berikut ini akan dibicarakan masalah tersebut satu persatu.

2.2 Jenis-Jenis Relasi Makna
Relasi makna dapat berwujud macam-macam. Berikut ini diuraikan beberapa wujud relasi makna.
2.2.1 Sinonim
Secara etimologi kata sinonim berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu onoma yang berarti nama, dan syn yang berarti dengan. Maka secara harfiah kata sinonim berarti nama lain untuk benda atau hal yang sama. Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa frase atau kalimat ) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
            Ketidakmungkinan kita untuk menukar sebuah kata dengan kata lain yang:
1)Faktor waktu. Misalnya kata hulubalang  bersinonim dengan kata komandan. Namun keduanya tidak mudah dipertukarkan karena kata hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno,klasik atau arkais. Sedangkan kata komandan hanya cocok untuk situasi masa kini (modrn).
2)Faktor tempat atau daerah. Misalnya kata saya dengan beta adalah bersinonim. Tetapi kata beta hanya cocok  untuk digunakan dalam konteks pemakaian bahasa indonesia timur ( Maluku ) ; sedangkan kata saya dapat digunakan secara umum di mana saja.
3)Faktor sosial. Misalnya kata aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim ; tetapi  kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya dan tidak dapat digunkan kepada orang yang lebih tua.
Mengenai sinonim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1.Tidak semua kata dalam bahasa indonesia mempunyai sinonim.  Misalnya kata beras ,salju, batu, dan kuning tidak memiliki sinonim.
2.Ada kata- kata yang bersinonom pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk kejadian. Misal kata benar bersinonim dengan kata betul; tetapi kata kebenaran tidak bersinonim dengan kata kebetulan.
3.Ada kata – kata yang tidak mempunyai sinonim padabentuk dasar tetapi memiliki sinonim pada bentuk jadian. Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur mempunyai sinonim, yaitu mengeringkan dan berjemur  bersinonim dengan berpanas.
4.Ada kata- kata yang dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim , tetapi dalam hati kiasan justru mempunyai sinonim. Misalnya kata hitam dalam makna sebenarnya tidak ada sinonimnya, tetapi dalam arti kiasan ada sinonimnya gelap,mesum. Menurut Abdul chaer(1994 : 82 ).
Sinonim adalah relasi makna antara kata ( frase atau kalimat ) yang maknanya sama atau mirip. Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya kata- kata bersinonimi, seperti kata – kata yang berasal dari bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing. Misalnya penyakit kencing manis dengan diabetes, telepon genggam dengan handphone. Menurut Hasnah Faizah linguistik umum (2010 :74 )Sinonimi adalah hubungan antara bentuk bahasa yang mirip atau sama maknanya.  KBBI (2003 : 1072).

2.2.2 Antonim dan Oposisi
                        Kata antonimi berasal dari kata Yunani kuno, yaitu onoma yang artinya nama, dan anti yang artinya melawan. Maka secara harfiah antonim berarti nama lain untuk benda lain pula. Secara semantik Verhaar (1978 ) mendefinisikan sebagai ; Ungkapan biasanya berupa kata ,tetapi dapat pula berupa frase atau kalimat )yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. misalnya dengan kata bagus adalah berantonimi dengan kata buruk ; kata besar adalah beratonimi dengan kata kecil, dan kata membeli berantonimi dengan kata menjual.Dalam buku- buku pelajaran bahasa indonesia, antonimi biasanya disebut lawan kata.banyak orang yang tidak setuju dengan iistilah ini sebab pada hakekat nya yang berlawanan bukan kata-kata itu, melainkan makna dari kata-kata itu.
Sehubungan dengan ini banyak pula yang menyebutkan oposisi makna. Dengan istilah oposisi, maka bisa tercakup dari konsep yang betul- betul berlawanan sampai kepada yang hanya bersifat kontras saja. Kata hidup dan mati, seperti sudah dibicarakan diatas, bisa menjadi contoh berlawanan.
Lebih jauh, berdasarkan sifatnya, oposisi ini dapat dibedakan menjadi :
1) Oposisi Mutlak
                        Disini terdapat pertentangan makna secara mutlak. Umpamanya antara kata hidup dan mati.diantara hidup dan mati terdapat makna yang mutlak,sebab sesuatu yang hidup tentu tidak (belum ) mati; sedangkan sesuatu yang mati tentu sudah tidak hidup lagi. Contoh lain dari oposisi mutlak ini adalah kata gerak dan diam; Sesuatu yang (ber) gerak tentu tiada dalam keadaan diam; dan sesuatu yang diam tentu tidak dalam keadaan (ber ) gerak. Kedua proses ini tidak dapat berlangsung bersamaan, tetapi secara bergantian.
2) Oposisi Kutub
                                    Disini terdapat pertentangan tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya terdapat tingkat- tingkat makna pada kata- kata tersebut, misalnya kata kaya dan miskin adalah dua buah kata yang beroposisi kutub. Pertentangan antara kaya dan miskin tidak mutlak. Orang yang tidak kaya belum tentu merasa miskin, dan begitu juga orang yang tidak kaya belum tentu merasa miskin, dan begitu juga orang yang tidak miskin belom tentu merasa kaya. Bagi orang yang biasa berpendapatan satu bulan sepuluh juta, dan tiba – tiba berpengahasilan tidk lebih satu juta rupiah, sudah merasa dirinya miskin. Sebaliknya orang yang setiap hari hanya berpenghasilan seratus ribu, tiba – tiba tiba – tiba berpenghasilan lima ratus ribu, sudah merasa dirinya kaya.
3) Oposisi Hubungan
                        Makna kata – kata yyang beroposisi hubungan ( relasional ) ini bersifat saling melengkapi. Artinya, kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran keduanya maka oposisi ini tidak ada. Umpamanya, kata menjual beroposisi dengan kata membeli. Kata menjual dan membeli walaupun maknanya berlawanan, tetapi proses kajiannya berlaku serempak. Proses menjual dan membeli terjadi pada waktu bersamaan, sehingga dapat dikatakan tak ada proses menjual jika tak ada prose membeli.
4) Oposisi Hierarkial
            Makna kata- kata yang beroposisi hierarkial ini menyatakan suatu deret jenjang tingkatan. Oleh karena itu kata- kata yang beroposisi hierarkial ini adalah kata – kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang dan isi ). Umpamanya kata meter beroposisi hierarkial dengan kata kilometer karena berada dalam deretan nama satuan yang menyatakan ukuran panjang. Menurut abdul chaer (1994 :88 ).
                                    Antomini atau oposisi merupakan relasi antar kata yang bertentangan atau berkebalikan maknanya. Istilah antomini digunakan untuk oposisi makna dalam pasangan leksikal bertaraf, seperti panas dan dingin. Antomini ini disebut bertaraf  karena antara panas dan dingin masih ada kata-kata lain seperti hangat dan suam-suam kuku. Menurut Hasana faizah linguitik umum (2010:74).
                                    Antonim  adalah pasangan leksikal yang tidak dijenjangkan. Misalnya tinggi dan rendah tidak tinggi tidak berarti rendah. KBBI (2003 : 58 ).
2.2.3 Homonimi, Homofoni, Homografi
                        Kata homonimi berasal dari bahasa Yunani kuno onoma yang artinya nama dan homo yang artinya sama. Secara harfiah homonimi dapat diartikan sebagai nama sama untuk benda atau hal lain. secara semantik ,Verhaar (1978) memberi definisi homonimi sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat ) tetapi maknanya tidak sama. Umpamanya antara kata pacar yang berarti inai dengan pacar yang berarti kekasih. Dan antara kata bisa yang berarti racun ular dengan kata bisa yang berarti sanggup, dapat.
                        Homofoni sebetulnya sama saja dengan homonimi karena realisasi bentuk- bentuk bahasa adalah berupa bunyi. Jadi, kata bisa yang berarti racun dan kata bisa yang berarti sanggup, dapat selain dari bentuk yang homonimi adalah bentuk yang homofoni, dan juga homografi karena tulisannya juga sama. Namun, dalam bahasa indonesia ada sejumlah kata yang homofon tetapi ditulis dengan ejaan yang berbeda karena ingin menjelas perbedaan makna. Menurut Abdul chaer (1994 – 93 ).
                        Homonimi yaitu relasi makna antarkata yang ditulis sama dan dilapalkan sama, tetapi maknanya berbeda. Kata- kata yang ditulis sama tetapi maknanya berbeda disebut homografi, sedangkan kata yang dilafalkan sama tetapi berbeda makna disebut homofom.misalnya kata tahu  ( makanan) dan berhomografi tahu (paham ). Sedangkan kata yang homofom kata masa (waktu ) berhomofoni dengan massa (jumlah besar yang menjadi satu kesatuan ). Menurut Hasnah Faizah linguistik umum (2010 : 73 ).
                        Homonimi adalah hubungan antara dua kata yang ditulis dan lafalkan dengan cara sama, tetapi tidak mempunyai makna yang sama. Homofoni adalah kata yang sama lafalnya dengan kata lain tetapi berbeda ejaan dan maknanya. Misalnya, masa dan massa, sangsi dan sanksi ). KBBI (2003 :407 )
2.2.4 Hoponimi dan Hipernimi
                                    Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti nama dan hypo berarti di bawah. Jadi, secara harfiah berarti nama yang termasuk dibawah nama lain.  berupa tetapi kiranya kiranya dapat juga berupa frase atau kalimat ) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain. misalnya kata tongkol ber hoponim terhadap kata ikan sebab makna kata tongkol berada atau termasuk makna pada kata ikan. Tongkol memang ikan tapi ikan bukan hanya tongkol melainkan juga termasuk bandeng, tenggiri, teri, mujair,cengkalang dan sebagainya.
                        Konsep hiponimi dan hipernimimengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata yang berbeda dibawah makna atau kata lain. karena itu ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap sejumlah kata lain, akann menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial berada diatasnya. Misalnya kata ikan yang merupakan hipernimi terhadap kata tongkol,bandeng, cakalang, dan mujair akan menjadi hiponimi terhadap kata binatang , sebab yang termasuk binatang bukan hanya ikan  tetapi juga kambing,monyet, gajah dan sebagainya. Selanjutnya kata binatang inipun merupakan hiponimi terhadap kata makluk, sebab kata makluk bukan hanya binatang tetapi juga manusia. Menurut Abdul chaer (1994 : 98 )
                        Hiponimi adalah relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generik, seperti makna anggrek dalam makna bunga, makna kucing dalam makna binatang, anggrek,mawar,tulip berhiponimi dengan bunga. Sedangkan kucing, anjing,kambing,dan kuda berhiponimi dengan binatang. Menurut Hasnah Faizah linguitik umum (2010 : 75 )
                        Hiponimi adalah hubungan antara makna spesifik dan makna generik. Misalnya kucing, anjing, kambing disebut homonimdari hewan. KBBI (2003 : 404 )
2.2.5 Polisemi
                        Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa ( terutama kata juga frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Umpamanya kata kepala dalam bahasa indonesia memiliki makna (1) bagian tubuh dari leher keatas separti terdapat pada manusia dan hewan, (2) bagian dari suatu yang terletak disebelah atas atau depan atau merupakan hal yang penting atau terutama  seperti pada kepala meja, dan kepala kereta api, (3) pemimpin atau ketua seperti pada kepala sekolah, kepala kantor, dan kepala stsiun, (4) jiwa atau orang seperti dalam kalimat setiap kepala menerima bantuan Rp 500.00 ,dan (5) akal budi seperti dalam kalimat. Badannya besar tetapi kepalanya kosong. Menururut Abdul chaer (1994 : 101 )
                                    Polisemi berkaitan dengan kata atau frasa yang berhubungan. Hubungan antar makna ini disebut polisemi. Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi jika kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Misalnya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna  (a) bagian tubuh manusia; (b) ketua atau pimpinan; (c) sesuatu yang berbentuk bulat,dan  (d) sesuatu yang berada pada sebelah atas. Menurut Hasnah Faizah linguitik umum (2010 : 73 )
                        Polisemi adalah bentuk bahasa  (kata,frasa dsb) yang mempunyai makna lebih dari satu. KBBI (2003: 886 )
2.2.6 Ambiguitas
                        Ambiguitas atau ketaksaan sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Kegandaan makna dalam ambiguitas berasal dari satuan gramatikal yang paling besar, yaitu frase atau kalimat, dan terjadi akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda. Umpamanya, frase buku sejarah baru, dapat ditafsirkan sebagai (1) buku sejarah itu batu terbit, atau (2) buku itu berisi sejarah zaman baru. Menurut Abdul chaer (1994 :104)
Ambiguitas yaitu sifat atau hal yang bermakna dua, kemungkinan yang mempunyai dua pengertian,kemungkinan adanya makna lebih dari satu, gabungan kata atau kalimat. KBBI (2003 : 36 )
2.2.7 Redundansi                
Istilah redundansi sering diartikan sebagai berlebih- lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya, kalimat Bola ditendang Si udin. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua dianggap sesuatu yang redundansi, yang berlebih- lebihan dan yang sebenarnya tidak perlu.
                                    Secara semantik masalah redundansi sebetulnya tidak ada, sebab salah satu prinsip dasar semantik  adalah bila bentuk berbeda maka maknapun akan berbeda. Jadi kalimat Bola ditentang Si Udin berbeda maknanya dengan Bola ditendang oleh Si Udin. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua akan lebih menonjolkan makna pelaku (agentif ) dari pada kalimat pertama yang tanpa kata oleh. Menurut Abdul chaer (1994 : 105 )

2.3 Contoh Relasi Makna
1. Sinonim atau Sinonimi, Contohnya:
            Betul =benar
            Buruk    =  jelek
Laris     =  laku
Dahaga  =  haus
Datang   = tiba
Pintar   = pandai
Usang   = lama
Hancur = musnah
Pulang = kembali = balik
Masyarakat = rakyat = warga
Hadiah = pemberian
            Dari contoh diatas dapat dilihat kata – kata bersinonim, dan tidak semua sinonim bisa dipertukarkan begitu saja.
Contoh kalimat :
Anjing meninggal ditabrak mobil
            Kata meninggal pada kalimat di atas tidak tepat, karena kata meninggal lebih tepat ditujukan kepada manusia, atau kata meninggal diganti dengan kata mati. Yang lebih tepatnya anjing mati ditabrak mobil. Jadi kata sinonim bisa digunakan sesuai dengan kepada siapa yang ditujukan pembicaraan tersebut.

2. Antonimi dan oposisi
            Antonimi sering disebut dengan lawan kata, maksudnya maknanya kebalikan dari makna ungkapan lain.
Contoh :
Jujur    = bohong
Tipis    = tebal
Rajin   = malas
Pintar  = bodoh
Mahal  = murah
Kaya   = miskin
Surga   =  neraka
Gila     = waras
            Lebih jauh, berdasarkan sifatnya, oposisi dapat dibedakan menjadi :

            2.1 Oposisi Mutlak
                        Disini terdapat pertentangan makna secara mutlak. Umpamanya kata masuk dan keluar. Diantara masuk dan keluar terdapat makna yang mutlak, sebab sesuatu yang masuk tentu tidak ( belum ) keluar ; sedangkan sesuatu yang keluar tentu sudah masuk. Misalnya naik dan turun. Diantara naik dan turun terdapat makna yang mutlak, sebab sesuatu yang naik tentu tidak (belum) turun; sedangkan sesuatu yang turun tentu sudah naik.kedua proses ini tidak dapat berlangsung bersamaan, tetapi secara bergantian.

2.2 Oposisi Kutub
            Makna kata yang termasuk oposisi kutub ini pertentangan tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradisi, artinya terdapat tingkat – tingkat makna pada kata tersebut. Misalnya kata kaya dan miskin adalah dua buah kata yang beroposisi kutub. Pertentangan antara kaya dan miskin tidak mutlak. Orang yang tidak kaya belum tentu merasa miskin, dan begitu juga orang yang tidak miskin belom tentu merasa kaya. Bila orang yang biasa berpendapatan satu bulan enam juta , lalu tiba – tiba menjadi satu juta rupiah, sudah merasa dirinya miskin, sebaliknya orang seseorang yang setiap bulan hanya berpenghasilan Rp 100.000 ,lalu tiba- tiba berpenghasilan Rp 500.000 sudah merasa dirinya kaya.


2.3 Oposisi Hubungan
                        Contoh memberi dan menerima walaupun maknanya berlawanan tapi kejadiannya serempak. Proses memberi dan menerima terjadi pada waktu bersamaan sehingga bisa dikatakan tidakkan ada proses memberi jika tidak ada yang menerima.
2.4 Oposisi  majemuk
            Oposisi majemuk ini beroposisi lebih dari sebuah kata. Misalnya kata utara dengan kata selatan, dengan kata timur, dengan kata barat.
Kata – kata diatas lazim disebut oposisimajemuk.

3. Homonimi, Homofoni, Homografi
       Misalnya kata bulan yang berarti waktu dalam 30 hari, dengan kata bulan yang berarti nama satelit bumi. Contoh lain kata salak yang berarti buah, dengan kata salak yang berarti gonggongan anjing. Contoh lain kata genting yang berarti gawat, dengan kata genting yang berarti benda penutup rumah.
4. Hiponimi dan Hipernimi
Misalnya kata mawar berhiponim terhadap kata bunga, sebab makna kata mawar termasuk makna kata bunga. Mawar memang bunga tapi bunga tidak hanya mawar melainkan juga termasuk melati, tulip,anggrek,lidah buaya dan sebagainya.
5. Polisemi
Misalnya kata darah dalam bahasa indonesia memiliki makna (1) hubungan darah persaudaraan, (2) yang ada pada tubuh manusia. Jadi, darah pada kalimat di atas memiliki makna lebih dari satu.
6. Ambiguitas
Umpamanya anak pejabat yang gemuk itu berasal dari surabaya. (1) yang gemuk adalah pejabat, (2) yang gemuk adalah anak pejabat. Contoh lain ; kucing makan tikus mati. (1) kucing memakan tikus yang mati, (2) kucing memakan tikus yang masih hidup lalu tikus itu mati.
7. Redundansi
Umpamanya ibu membuat kue, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan kue dibuat oleh ibu. Pemakaian kata oleh pada kalimat yang kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu. Contoh lain ; petani mencangkul kebunnya, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan  petani sedang mencangkul kebunnya.
BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, makna kata saling berhubungan, hubungan kata itu disebut relasi makna. Relasi makna dapat berwujud bermacam- macam antara lainSinonim sering disebut dengan persamaan kata.Antonimi sering disebut dengan lawan kata, Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, frase, ) yang memiliki makna lebih dari satu. Homonimi adalah 2 buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan.Homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.   Hifonimi adalah hubungan sematik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.Ambiguitas adalah hubungan sematik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.Istilah redudansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihan penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

3.2Saran
            Semantik merupakan cabang linguistik yang penting dipelajari. Dengan mempelajari semantik, kita akan tahu tentang makna-makna bahasa, karena semantik adalah ilmu yang mempelajari tentang makna. Maka dari itu penting bagi kita untuk mempelajari ilmu semantik atau relasi makna.





DAFTAR PUSTAKA

http://resisusantiuir.blogspot.co.id/2013/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://asrulnazar.blogspot.co.id/2015/04/relasi-makna-perubahan-makna-dan-medan.html
http://andrisyarifudin2.blogspot.co.id/2014/06/makalah-relasi-makna.html
http://nurhalimahsaja.blogspot.co.id/2013/03/relasi-makna-dalam-setiap.html